Senin, 11 November 2013

SEGMENTASI PASAR






SEGMENTASI PASAR

Menurut Gitosudarno, 2008, segmentasi pasar adalah usaha untuk mengelompokkan pasar, dari pasar yang bersifat heterogen menjadi bagian-bagian pasar yang memiliki sifat yang homogen. Segmentasi pasar diperlukan agar para pengusaha lebih terarah dalam menjalankan bisnisnya. Mereka dapat menentukan untuk menginvestasikan uang mereka ke pasar yang lebih potensial atau menentukan produksi perusahaan yang mampu memenuhi permintaan pasar.
Diantara segmen pasar yang ada, terdapat segmen yang menarik (attractive segment) yaitu segmen pasar yang belum terlayani, atau sudah terlayani tetapi kurang baik. Disamping memperhatikan segmen pasar yang menarik tersebut, masih ada faktor-faktor yang harus dipertimbangkan untuk menunjang usaha segmentasi secara efektif. Faktor-faktor tersebut adalah:
1. Measurability
Yaitu tersedianya tingkat informasi mengenai sifat-sifat pemtieli, sejauh mana syarat-syarat tersebut dapat diukur, baik secara kualaatif maupun secara kualitatif.
2. Accessbility
Yaitu tingkat dimana perusahaan itu secara efektif memusatkan usaha pemasarannya pada segmen yang telah dipilih.
3. Substantiality
Dimana segmen yang dipilih tersebut cukup luas bagi pemasaran tersendiri, sehingga mendatangkan keuntungan jangka panjang bagi perusahaan.
4. Actionability
Yaitu sejauh apa program yang efektif dapat dirancang untuk menarik dan melayani segmen-segmen tersebut.
Pengusaha berusaha membagi dan mengelompokkan konsumen sesuai dengan sifatnya sehingga mereka bisa memperlakukan konsumen dengan service yang berbeda-beda. Untuk menentukan segmentasi terdapat variabel-variabel yang perlu diperhatikan.
Kotler (1995) mengklasifikasikan jenis-jenis variabel segmentasi sebagai berikut:
1.Segmentasi Geografi
Segmentasi ini membagi pasar menjadi unit-unit geografi yang berbeda, seperti negara, propinsi, kabupaten, kota, wilayah, daerah atau kawasan. Jadi dengan segmentasi ini, pemasar memperoleh kepastian kemana atau dimana produk ini harus dipasarkan.
2. Segmentasi Demografi
Segmentasi ini memberikan gambaran bagi pemasar kepada siapa produk ini harus ditawarkan. Jawaban atas pertanyaan kepada siapa dapat berkonotasi pada umur, jenis kelamin, jumlah anggota keluarga, siklus kehidupan keluarga seperti anak-anak, remaja, dewasa, kawin/ belum kawin, keluarga muda dengan satu anak, keluarga dengan dua anak, keluarga yang anak-anaknya sudah bekerja dan seterusnya. Dapat pula berkonotasi pada tingkat penghasilan, pendidikan, jenis pekerjaan, pengalaman, agama dan keturunan
misalnya: Jawa, Madura, Bali, Manado, Cina dan sebagainya.
3. Segmentasi Psikografi
Pada segmentasi ini pembeli dibagi menjadi kelompok-kelompok berdasarkan:
a. Status sosial, misalnya: pemimpin masyarakat, pendidik, golongan elite, golongan menengah, golongan rendah.
b. Gaya hidup misalnya: modern, tradisional, kuno, boros, hemat, mewah dan sebagainya.
c. Kepribadian, misalnya: penggemar, pecandu atau pemerhati suatu produk.
4. Segmentasi Tingkah Laku
Segmentasi tingkah laku mengelompokkan pembeli berdasarkan pada pengetahuan, sikap, penggunaan atau reaksi mereka terhadap suatu produk. Banyak pemasar yakin bahwa variabel tingkah laku merupakan awal paling baik untuk membentuk segmen pasar.

ANALISIS DEMOGRAFI
Demografi adalah informasi yang mudah dijangkau dan relatif lebih murah untuk mengidentifikasikan target market, informasi demografi memberikan insight tentang trend yang sedang terjadi, meski tidak dapat untuk meramalkan perilaku konsumen, demografi dapat dilihat untuk melihat perubahan permintaan aneka produk dan yang terakhir demografi dapat digunakan untuk mengevaluasi kampanye-kampanye pemasaran.
Ketika kita membicarakan tentang demografi dalam perilaku konsumen ketika itu juga kita tau ada beberapa aspek didalamnya yaitu : struktur kependudukan,sosial,ekonomi dan status.
Berikut penjabaran beberapa aspek itu :
a) Demografi dalam struktur kependudukan mencangkup perilaku konsumen
Kependudukan atau demografi adalah ilmu yang mempelajari dinamika kependudukan manusia. Meliputi di dalamnya ukuran, struktur, dan distribusi penduduk, serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran, kematian, migrasi, serta penuaan.
Analisis kependudukan dapat merujuk masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti pendidikan, kewarganegaraan, agama, atau etnisitas tertentu.
A. Definisi :
Demografi berasal dari Bahasa Yunani Demos : Rakyat , Grafein : Menulis, Demografi = tulisan tulisan tentang rakyat/penduduk ( ilmu kependudukan)
1. Menurut Donald J Boque :
Ilmu yang mempelajari secara statistik dan matematik tentang besar, komposisi dan distribusi penduduk beserta perubahannya sepanjang masa, melalui bekerjanya lima komponen demografi yaitu kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas), perkawinan, migrasi dan mobilitas sosial.
2. Philip M. Hauser dan Duddley Duncan
Ilmu yg mempelajari jumlah, sebaran teritorial, dan komposisi penduduk; serta perubahan penduduk karena fertilitas, mortalitas, migrasi, dan mobilitas social.
3. Lain-lain
Ilmu yg mempelajari struktur dan proses penduduk di suatu wilayah
B. Variabel utama demografi
Kelahiran (natalitas), Kematian (death/mortalitas), Migrasi (perpindahan)
b) Demografi dalam kelas social dalam perilaku konsumen
Kelas sosial didefinisikan sebagai pembagian anggota masyarakat ke dalam suatu hierarki status kelas yang berbeda sehingga para anggota setiap kelas secara relatif mempunyai status yang sama`dan para anggota kelas lainnya mempunyai status yang lebih tinggi atau lebih rendah.
Kategori kelas sosial biasanya disusun dalam hierarki, yang berkisar dari status yang rendah sampai yang tinggi. Dengan demikian, para anggota kelas sosial tertentu merasa para anggota kelas sosial lainnya mempunyai status yang lebih tinggi maupun lebih rendah dari pada mereka.
Aspek hierarkis kelas sosial penting bagi para pemasar. Para konsumen membeli berbagai produk tertentu karena produk-produk ini disukai oleh anggota kelas sosial mereka sendiri maupun kelas yang lebih tinggi, dan para konsumen mungkin menghindari berbagai produk lain karena mereka merasa produk-produk tersebut adalah produk-produk “kelas yang lebih rendah”.
Pendekatan yang sistematis untuk mengukur kelas sosial tercakup dalam berbagai kategori yang luas berikut ini: ukuran subjektif, ukuran reputasi, dan ukuran objektif dari kelas sosial.
Peneliti konsumen telah menemukan bukti bahwa di setiap kelas sosial, ada faktor-faktor gaya hidup tertentu (kepercayaan, sikap, kegiatan, dan perilaku bersama) yang cenderung membedakan anggota setiap kelas dari anggota kelas sosial lainnya.
c) Demografi dalam ekonomi mencangkup perilaku konsumen
Gaya Hidup
Gaya hidup merupakan pola hidup yang menentukan bagaimana seseorang memilih untuk menggunakan waktu, uang dan energi dan merefleksikan nilai-nilai, rasa, dan kesukaan. Gaya hidup adalah bagaimana seseorang menjalankan apa yang menjadi konsep dirinya yang ditentukan oleh karakteristik individu yang terbangun dan terbentuk sejak lahir dan seiring dengan berlangsungnya interaksi sosial selama mereka menjalani siklus kehidupan.
Konsep gaya hidup konsumen sedikit berbeda dari kepribadian. Gaya hidup terkait dengan bagaimana seseorang hidup, bagaimana menggunakan uangnya dan bagaimana mengalokasikan waktu mereka. Kepribadian menggambarkan konsumen lebih kepada perspektif internal, yang memperlihatkan karakteristik pola berpikir, perasaan dan persepsi mereka terhadap sesuatu.
Gaya hidup yang diinginkan oleh seseorang mempengaruhi perilaku pembelian yang ada dalam dirinya, dan selanjutnya akan mempengaruhi atau bahkan mengubah gaya hidup individu tersebut.
Berbagai faktor dapat mempengaruhi gaya hidup seseorang diantaranya demografi, kepribadian, kelas sosial, daur hidup dalam rumah tangga. Kasali (1998) menyampaikan beberapa perubahan demografi Indonesia di masa depan, yaitu penduduk akan lebih terkonsentrasi di perkotaan, usia akan semakin tua, melemahnya pertumbuhan penduduk, berkurangnya orang muda, jumlah anggota keluarga berkurang, pria akan lebih banyak, semakin banyak wanita yang bekerja, penghasilan keluarga meningkat, orang kaya bertambah banyak, dan pulau Jawa tetap terpadat.
d) Demografi dalam status sosial mencangkup perilaku konsumen
Jenis-Jenis Status Sosial
1.Ascribed Status
Ascribed status adalah tipe status yang didapat sejak lahir seperti jenis kelamin, ras, kasta, golongan, keturunan, suku, usia, dan lain sebagainya.
2. Achieved Status
Achieved status adalah status sosial yang didapat sesorang karena kerja keras dan usaha yang dilakukannya. Contoh achieved status yaitu seperti harta kekayaan, tingkat pendidikan, pekerjaan, dll.
3. Assigned Status
Assigned status adalah status sosial yang diperoleh seseorang di dalam lingkungan masyarakat yang bukan didapat sejak lahir tetapi diberikan karena usaha dan kepercayaan masyarakat. Contohnya seperti seseorang yang dijadikan kepala suku, ketua adat, sesepuh, dan sebagainya.

Sumber :
Segmentasi Pasar :
Demografi Perilaku Konsumen :  



Jurnal Perilaku Konsumen

Pengaruh Iklan Televisi Terhadap Perilaku Konsumen Dalam
Pengambilan Keputusan Pembelian Sabun Mandi Lifebuoy

sumber  : http://irmanurrahma92.blogspot.com/2012/12/jurnal-perilaku-konsumen-nasional.htmlhttp://irmanurrahma92.blogspot.com/2012/12/jurnal-perilaku-konsumen-nasional.html

Abstrak
Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh iklan televisi terhadap perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian sabun mandi lifebuoy. Penelitian dilakukan di Kelurahan Sendangsari Kecamatan Purwodadi Kabupaten Purworejo. Jumlah populasi dalam penelitian ini 210 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik convenience sampling dan purposive sampling. Dengan menggunakan teknik tersebut maka diperoleh sampel sebanyak 131 orang.
Alat analisis yang digunakan adalah regresi berganda. Hasil analisis regresi menghasilkan persamaan, Y = 4,336 + 0,251X1 +0,342X2 + 0,503X3. Nilai t hitung untuk masing-masing variabel signifikan yang berarti bahwa variabel suasana, dialog dan personal secara parsial berpengaruh signifikan terhadap perilaku konsumen dalam pengambilan
keputusan pembelian sabun lifebuoy. F hitung sebesar 131,143 dan signifikan, yang berarti bahwa variabel suasana, dialog dan personal secara simultan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian sabun lifebuoy. Nilai koefisien determinasi sebesar 0,750, yang berarti 75% perubahan Y disebabkan oleh variasi perubahan variabel suasana (X1), dialog (X2), dan personal (X3),
sedangkan sisanya sebesar 25% dipengaruhi variabel lain yang tidak diikutsertakan dalam penelitian.

Kata kunci : iklan televisi, perilaku konsumen, pengambilan keputusan pembelian

PENDAHULUAN

Seiring dengan berubahnya pola hidup dan meningkatnya kebutuhan akan barang-barang
konsumsi, maka produksi barang-barang konsumsi juga mengalami banyak kemajuan. Persoalan tersebut akhirnya mengakibatkan persaingan super ketat dari produsen, hal ini akan berpengaruh pada pola hidup masyarakat dengan semakin gencarnya informasi yang mereka terima dari suatu produk.
Berbagai upaya promosi dilakukan untuk menarik minat konsumen agar mau membeli produk yang mereka hasilkan. Gencarnya promosi yang dilakukan dapat dilihat dari banyaknya iklan yang dipasang atau disiarkan oleh para pengguna jasa iklan pada berbagai media masa baik cetak maupun elektronik termasuk televisi.
Iklan pada sebuah tayangan televisi merupakan salah satu bentuk promosi, berusaha memberikan informasi kepada konsumen tentang adanya produk tertentu. Keunggulan dan kualitas menjadi ciri suatu iklann untuk mempengaruhi konsumen agar memilihnya serta mendapatkannya.
Dampak dari suatu iklan televisi tergantung bagaimana pesan disampaikan. Variabel-variabel dalam mempelajari iklan televisi digolongkan menjadi tiga, yaitu (Kotler, 1993:291) :
1. Suasana
Suasana adalah latar belakang keadaan yang dapat menggambarkan suatu maksud tertentu di dalam suatu iklan.
2. Dialog
Dialog adalah pesan iklan yang disampaikan dalam di dalam suatu media yang diharapkan dapat menarik konsumen untuk membeli produk tersebut.
3. Personal
Personal adalah orang-orang yang dapat dipakai dalam menyampaikan pesan iklan. Produsen selalu berupaya mendesain pesan iklan sedemikian rupa agar menarik. Semakin menarik suatu iklan dan semakin dilihat, dibaca, dan didengar maka semakin akrab konsumen dengan produk-produk yang diiklankan, maka dapat diharapkan konsumen untuk memilihnya. Sesuatu yang asing tentunya kurang disukai oleh konsumen. Penelitian tentang iklan televisi yang sering digunakan produsen untuk memperlancar komunikasi dengan konsumennya dan masyarakat luas sangat menarik. Iklan sabun mandi lifebuoy versi membersihkan tanah longsor akan dijadikan fokus dalam penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk :
1. Mengetahui pengaruh suasana terhadap perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian sabun mandi lifebuoy.
2. Mengetahui pengaruh dialog terhadap perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian sabun mandi lifebuoy.
3. Mengetahui pengaruh personal terhadap perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian sabun mandi lifebuoy.
4. Mengetahui pengaruh suasana, dialog, dan personal secara bersama-sama terhadap perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian sabun mandi lifebuoy.

METODE

Populasi dan Sampel

Penelitian dilakukan di Kelurahan Sendangsari Kecamatan Purwodadi Kabupaten Purworejo. Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen yang pernah melihat iklan sabun mandi lifebuoy versi membersihkan tanah longsor dan menggunakan sabun mandi
lifebuoy tersebut. Pengambilan sampel dilakukan dengan convenience sampling dan purposive sampling. Convenience sampling adalah teknik penyebaran kuesioner atas dasar kemudahan menemui responden, agar tidak terjadi duplikasi maka setiap responden
diminta untuk mengisi identitas responden. Purposive sampling adalah pengambilan sampel anggota populasi dilakukan dengan pertimbangan tertentu. Jumlah sampel ditentukan berdasarkan tabel penentuan sampel (Sugiyono, 2004:81). Dengan taraf kesalahan 5%, maka sampel diambil sebanyak 131 responden.
Variabel Penelitian
1. Variabel bebas (X)
a. Suasana (X1)
Suasana adalah latar belakang keadaan yang dapat menggambarkan suatu maksud tertentu  di dalam suatu iklan. Suasana meliputi cuplikan kehidupan, gaya hidup, fantasi, dan citra.
b. Dialog (X2)
Dialog adalah pesan iklan yang disampaikan dalam di dalam suatu media yang diharapkan dapat menarik konsumen untuk membeli produk tersebut. Dialog meliputi musikal, keahlian teknik, dan bukti-bukti ilmiah.
c. Personal (X3)
Personal dalah orang-orang yang dapat dipakai dalam menyampaikan pesan iklan. Personal meliputi simbol kepribadian dan bukti-bukti ilmiah.
2. Variabel terikat (Y)
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian sabun mandi lifebuoy.
Variabel-variabel yang digunakan diukur dengan menggunakan skala likert 1-5 (sangat tidak setuju – sangat setuju).
Alat Analisis
Alat analisis yang digunakan adalah regresi berganda.

HASIL PENELITIAN

Responden
Responden diklasifikasikan menurut jenis kelamin, usia dan pekerjaan. Responden terdiri dari perempuan sebanyak 98 orang (74%) dan laki-laki sebanyak 33 (26%). Responden yang berusia <20 tahun sebanyak 19 orang (14%), usia 20-30 tahun sebanyak 34 orang (26%), dan usia 31-40 tahun sebanyak 67 orang (51%). Jenis pekerjaan responden cukup bervariasi, 51 orang (39%) adalah petani, 25 orang (19%) adalah wiraswasta (dagang), 24
orang (19%) adalah PNS, 17 orang (13%) adalah pegawai swasta, sedangkan sisanya sebanyak 14 orang (10%) adalah mahasiswa.

Analisis Data
Analisis regresi berganda untuk mengetahui pengaruh suasana (X1), dialog (X2), dan personal (X3) terhadap pengambilan keputusan pembelian sabun mandi lifebuoy (Y). Perhitungan dilakukan dengan menggunakan program SPSS 10.0 for windows. Hasil perhitungan menghasilkan persamaan regresi, yaitu :
Y = 4,336 + 0,251X1 + 0,342X2 + 0,503X3
a. Nilai koefisien regresi untuk variabel suasana adalah positif (0,251)
Suasana berpengaruh positif terhadap pengambilan keputusan konsumen membeli sabun mandi lifebuoy, artinya jika variabel suasana dalam iklan sabun mandi lifebuoy baik dan dapat menggambarkan maksud dari penayangan iklan tersebut maka pengambilan keputusan konsumen membeli sabun mandi lifebuoy akan mengalami peningkatan.
b. Nilai koefisien regresi untuk variabel dialog adalah positif (0,342)
Dialog berpengaruh  positif terhadap pengambilan keputusan konsumen membeli sabun mandi lifebuoy, artinya jika variabel dialog dalam iklan sabun mandi lifebuoy dapat menarik konsumen dengan penataan musik yang tepat dan menonjolkan keahlian perusahaan dalam membuat
produk andalannya maka pengambilan keputusan konsumen membeli sabun mandi lifebuoy akan mengalami peningkatan.
c. Nilai koefisien regresi untuk variabel personal adalah positif (0,503)
Personal berpengaruh positif terhadap pengambilan keputusan konsumen membeli sabun mandi lifebuoy, artinya jika variabel personal dalam iklan sabun mandi lifebuoy menampilkan orang-orang atau model iklan terpercaya yang diyakini dapat mempengaruhi minat beli konsumen baik itu disebabkan karena sang model iklan yang
terkenal ataupun pernyataan yang diungkapkan model iklan agar konsumen tertarik maka
pengambilan keputusan konsumen membeli sabun mandi lifebuoy akan mengalami peningkatan.
Hasil perhitungan uji t menunjukkan bahwa nilai t hitung untuk masing-masing variabel signifikan yang berarti bahwa variabel suasana, dialog dan personal secara parsial berpengaruh signifikan terhadap perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian sabun lifebuoy. Nilai F hitung adalah sebesar 131,143 dan signifikan, yang berarti bahwa variabel suasana, dialog dan personal secara simultan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian sabun lifebuoy. Nilai koefisien determinasi sebesar 0,750, yang berarti 75% perubahan Y
disebabkan oleh variasi perubahan variabel suasana (X1), dialog (X2), dan personal (X3), sedangkan sisanya sebesar 25% dipengaruhi variabel lain yang tidak diikutsertakan dalam
penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

Algifari, 2000, Analisis Regresi Teori Kasus dan Solusi, Yogyakarta: BPFE
Engel, James, 1994, Perilaku Konsumen, Jilid 1, Jakarta: Binarupa Aksara
Kasali, Rhenald, 1993, Manajemen Periklanan dan Aplikasi Di Indonesia, Jakarta: Grafiti
Kotler, Philip, 1993, Manajemen Pemasaran, Jilid II, Jakarta: Erlangga
Kotler, Philip, 2002, Manajemen Pemasaran, Jilid I, Edisi Kesebelas, Jakarta: Indeks
Riduan, 2005, Belajar Mudah Penelitian, Bandung: Alfabeta
Sugiono, 2004, Metode Penelitian Bisnis, Bandung: Alfabeta
______, 2005, Statistik Untuk Penelitian, Bandung: Alfabeta
Swasta, Basu dan Ibnu Sukotjo, 2000, Pengantar Bisnis Modern, Yogyakarta:
Liberty Swasta, Basu dan T. Hani Handoko, 1987, Manajemen Pemasaran Analisa Perilaku Konsumen, Yogyakarta: Liberty

Jumat, 20 September 2013

ciri orang akan bangkrut

Dilansir dari Moneymatters.net, berikut ciri-ciri orang akan jatuh miskin:
1. Tak mengetahui ke mana larinya uang Orang yang akan bangkrut atau sudah bangkrut biasanya akan selalu merasa kekurangan. Kenapa demikian? Hal tersebut dikarenakan mereka tak mengetahui ke mana saja larinya uang yang dimiliki. Mereka baru menyadarinya ketika sudah puas menghambur-hamburkannya. Apakah Anda pernah merasakan hal seperti ini? Jika iya, maka berhati-hatilah. Mulai saat ini, sebaiknya Anda membuat rincian pengeluaran dan anggaran belanja per bulan.
2. Tak punya rencana jangka panjang Rencana jangka panjang, seperti berinvestasi atau menabung. Tapi, hal tersebut biasanya tak dimiliki oleh orang yang akan bangkrut. Padahal, memiliki rencana jangka panjang itu penting untuk menghindari bangkrut atau jatuh miskin.
3. Hidup terlalu mewah Sebagian besar yang memiliki gaji besar biasanya tak mau ketinggalan dengan gaya hidup mewah. Uang yang dimilikinya bukan dipergunakan untuk menabung atau investasi, melainkan untuk membeli barang-barang mewah dan meninggikan standar hidupnya. Misalnya, membeli rumah dan mobil mewah, pakaian bermerek, dan lain sebagainya.
4. Selalu berutang Bagi Anda yang tak suka menggunakan uang tunai saat melakukan transaksi sebaiknya berhati-hati. Memakai kartu kredit dalam setiap melakukan transaksi tentunya hanya akan menambah utang Anda. Jika hal itu terus-menerus dilakukan, maka Akan membuat Anda terlilit utang. Baca juga: Ciri-ciri orang yang terlilit utang Gila belanja – Ist
5. Berbelanja yang tak dibutuhkan Setiap ada barang elektronik terbaru seperti ponsel pintar, mereka langsung menggunakan uangnya untuk membeli barang tesebut. Padahal, ponsel yang dimilikinya masih berfungsi dengan baik. Hal tersebut dilakukannya agar tidak dibilang ketinggalan zaman. Jika hal ini Anda lakukan, maka berhati-hatilah Anda akan jatuh miskin.
6. Cepat mengeluarkan uang Sebagian orang yang menjadi bangkrut biasanya dikarenakan cepat mengeluarkan uang. Setiap ada barang yang diinginkan, mereka tanpa berpikir panjang untuk membelinya dan dengan mudahnya mengeluarkan uangnya. Baca juga: 5 ciri Anda “gila” belanja
7. Senang dibilang kaya Ciri lain orang yang tak akan lepas dari kebangkrutan adalah senang dibilang kaya. Mereka tidak benar-benar peduli apakah benar-benar sukses atau tidak. Yang terpenting baginya adalah orang mengira dirinya sukses dan memiliki harta yang berlimpah. Padahal, hal tersebut malah akan membuatnya jadi lebih mudah mengeluarkan uang.
8. Mementingkan kesenangan saat ini Orang yang seperti ini sangat sulit sekali untuk berhemat. Mereka lebih suka menghambur-hamburkan uangnya untuk kesenangan saat ini dibandingkan untuk masa depan. Mereka tak sadar bahwa menabung di masa kini itu bisa membuatnya senang di masa yang akan datang. Itulah ciri-ciri orang akan jatuh miskin. Apakah Anda merasakan beberapa ciri tersebut? Jika iya, maka mulai saat ini mengatur keuangan Anda dengan baik dan berhemat. Dengan begitu, Anda akan merasa senang saat ini dan masa depan.

Read more at: http://ciricara.com/2013/07/19/ciri-ciri-orang-akan-jatuh-miskin/
Copyright © CiriCara.com

Jumat, 14 Desember 2012

mental miskin bangsa indonesia


Bajaj Isi Pertamax –
Jagad pemberitaan di media online dan elektronik diramaikan pemberitaan soal mobil-mobil mewah yang ramai-ramai berpindah ke Premium karena harga Pertamax naik dari Rp. 10.400,- menjadi Rp. 10.850,- . Ada Alphard, Lexus, Jaguar, dan sebuah sedan mewah berplat nomor merah, tertangkap kamera sedang mengisi BBM dengan nozzle warna kuning alias Premium.
Beberapa petugas SPBU yang diwawancarai mengaku mereka sudah berupaya mengingatkan pemakai mobil mewah agar jangan mengisi mobilnya dengan premium. Tapi si pemakai mobil selalu menjawab mereka “tidak mampu” membeli pertamax karena harganya yang terus naik mengikuti harga minyak di pasar dunia. Itu sebabnya mereka beralih ke premium, BBM bersubsidi.
Dalam acara Kabar Utama di TV One, seorang penelpon bernama Pak Ali, dari Pasar Minggu. Ia mengaku mobilnya Mitsubishi Pajero, memakai solar bersubsidi. Alasannya, bukankah bumi air dan kekayaan alam di dalamnya dipakai untuk kesejahteraan rakyat. Bukan hanya rakyat kecil saja, dia pun berhak menikmati BBM bersubsidi.
Di akhir acara, pembawa acara membacakan sebuah sms dari seseorang yang saya lupa namanya. Dia mengaku punya 2 buah motor dan 2 buah mobil, APV dan satu lagi saya lupa, yang jelas jenis mobil keluarga yang bukan mobil mewah. Ia mengaku selama ini selalu mengisi mobilnya dengan Pertamax Plus. Tapi belakangan ketika harga Pertamax Plus terus melambung, ia terpaksa beralih ke Pertamax.
Pengirim sms menyatakan, sebenarnya pilihan pembelian BBM bukan tergantung pada semewah apa mobilnya, semua itu tergantung pada kesadaran pemiliknya dan itikadnya untuk tidak memakai apa yang seharusnya menjadi hak orang lain. Luar biasa sekali orang ini!
Mobil Mewah Isi Premium__Mobil Mewah Isi Premium
Mobil Mewah Isi Premium__Mobil Mewah Isi Premium
Mobil Mewah Isi Premium_
– Alphard minum Premium (www.republika.co.id) –
Betul, meski seseorang punya 5 mobil mewah sekalipun, jika paradigma berpikirnya seperti Bapak Ali, yang beranggapan dirinya bagian dari rakyat yang juga berhak menikmati subsidi, maka orang-orang seperti ini tak akan merasa bersalah memakai BBM bersubsidi. Seperti ditulis seorang pengirim twitter : “semua orang juga pengen ngirit”
Membeli sebuah mobil mewah, tentu sudah disadari resikonya akan mahal di biaya pemeliharaan dan perawatan. Mesin mobilnya butuh BBM ber-oktan tinggi, ban mobil, kaca spion, aksesories mobil, suku cadang dan biaya service-nya pun mahal. Karena itu mobil mewah hanya terjangkau bagi kantong orang-orang yang sudah makmur.
Mobil adalah kebutuhan tertier, orang baru berpikir membeli mobil kalau kebutuhan primer dan sekundernya sudah terpenuhi. Kalau kebutuhan tertiernya saja jenis yang mewah, tentu pemiliknya punya cukup uang untuk merawatnya. Lalu kenapa rela mengorbankan mesin mobilnya demi “ngirit”?
Ini soal “mentalitas”. “Kaya” itu ukurannya bukan hanya dari berapa asset yang dimiliki, berapa banyak tabungan yang ada, tapi seberapa ‘kaya’ orang itu menilai dirinya sendiri. Ketika BLT dibagikan tahun 2005 dan 2008 lalu, banyak orang yang tidak miskin-miskin amat, rela dilabelin miskin asal bisa mendapat BLT 3 bulan sekali. Meski untuk itu ia harus rela antri berjam-jam berdesakan dengan orang-orang yang benar-benar miskin.
Mobil Mewah Isi Premium
– Camry juga isi Premium (www.republika.co.id) –
Teman saya pernah cerita, kerabatnya yang pasutri bekerja dan punya penghasilan, rela berepot-ria mengurus jamkeskin supaya kalau berobat murah. Kebetulan saat itu ada anggota keluarganya yang sakit dan harus menjalani operasi. Katanya, dengan jamkeskin ia hanya dikenai biaya sepersekian saja dari biaya normal, padahal di tempat kerjanya ia bisa mendapatkan penggantian biaya berobat sampai plafon tertentu untuk tindakan operasi.
Dengan Jamkeskin, ia bisa irit banyak, dan tentu saja klaim asuransi dari tempat kerjanya bisa masuk kantong. Jadi dengan sakitnya anggota keluarganya, ia malah bisa dapat “untung”. Teman saya sampai geleng-geleng kepala melihat kelakuan kerabatnya itu.
Seorang teman lain pernah bercerita, di Bondowoso, kota kecil di Jawa Timur, ada seorang guru mengaji yang hanya mendapat upah Rp. 75.000 sebulan dari jasanya mengajar anak-anak mengaji. Sementara penerima BLT, yang hanya menunggu saja bisa dapat Rp. 100.000,- per bulan.
Tapi si guru mengaji ini tidak menerima BLT. Ia rela berupaya apa saja asal halal dan tak merendahkan martabatnya dengan menjadi peminta-minta. Inilah orang “kaya” yang sebenarnya. Mentalitasnya kaya, harga dirinya kaya.
Banyak orang tak tersentuh hatinya melihat kemiskinan kasat mata sehari-hari disekitarnya, meski ia punya segala-galanya lebih dari cukup. Banyak orang yang merasa sayang memberikan sebagian uangnya untuk orang lain yang membutuhkan, meski Tuhan memberinya jauh lebih banyak. Banyak orang yang terus menerus mengeluh gajinya kurang, meski tiap weekend dia masih bisa mengajak keluarganya makan di resto siap saji dan masih bisa membeli gadgetmodel baru.
Mobil Mewah Isi Premium_)Mobil Mewah Isi Premium
– Lexus pun pakai Premium (oto.detik.com) –
Kalau kaum fakir miskin rela berdesakan berpanas-panas sampai terinjak-injak demi pembagian daging qurban, paket sembako atau uang zakat, saya masih bisa maklum. Mungkin kalau tak begitu ia tak akan bisa menikmatinya. Seperti pengakuan seorang ibu yang rela berjalan kaki dari Senen ke Istiqlal dini hari, agar bisa antri paling depan, hanya supaya 4 anaknya bisa makan daging.
Meski untuk itu ia harus terjatuh beberapa kali dan kakinya lecet-lecet, ia bisa tersenyum bahagia membawa pulang sebungkus daging. Bukan untuk dijual lagi agar dapat untung! Tidak, ini demi anak-anaknya bisa makan daging.
Lah, kalau ada ribuan orang dari kalangan ekonomi kelas menengah dan menengah atas rela antri sampai terinjak-injak dan pingsan di sebuah mall mewah Pacific Place, demi sebuah gadget model terbaru dengan harga diskon 50%, saya tak habis pikir. Padahal pembelian itu mensyaratkan pembeli harus memiliki kartu kredit tertentu yang menjadi sponsor penjualan.
Setiap orang harus menunjukkan kartu kredit dengan nama yang sama antara yang tertera di kartu kredit dengan kartu identitas pembeli. Artinya si pembeli haruslah pemilik kartu kredit. Seseorang yang punya kartu kredit, oleh pihak bank penerbit dianggap cukup memadai untuk memiliki sebuah kartu belanja dengan iuran tahunan jumlah tertentu.
Ia dinilai punya penghasilan layak untuk membayar angsuran minimal dari limit/batas atas kartu kredit itu. Artinya lagi, ia bukan orang tak punya. Tapi faktanya ia tak punya ‘malu’ untuk mendapatkan barang diskonan sampai rela mengorbankan dirinya.
Pemilik mobil mewah yang rela antri BBM bersubsidi dan rela mengorbankan kehandalan mesin mobilnya demi satu kata : IRIT, kurang lebih mentalitasnya sama dengan orang yang rela disebut miskin agar dapat BLT, rela pingsan demi BB diskonan. Sekali lagi, “kaya” dan “miskin” bukan persoalan materi semata. Ini lebih pada soal “mental” dan “hati”. Ketika mentalitas seseorang sudah kaya, hatinya merasa kaya, maka perilakunya pun akan “kaya”.
Antrian BB Bellagio di Pacific Place__Antrian BB Bellagio di Pacific Place
Antrian BB Bellagio di Pacific Place__Antrian BB Bellagio di Pacific Place
– Ribuan orang “miskin” antri BB Bellagio di Pacific Place (forum.tempo.co) –
Saya teringat pembicaraan di grup BBM saya dengan mantan teman-teman kuliah. Ada yang bertanya : “sebenarnya, kalau harga BBM naik, siapa sih yang diuntungkan?”. Lalu seorang teman menjawab : “yang beruntung ya orang yang selalu bersyukur”. Benar! Sebab hanya orang yang pandai bersyukur yang bisa merasa “cukup” dalam segala hal.
Gaji saya tentu tak akan cukup kalau saya berpatokan sepatu dan tas saya harus yang bermerk, meski itu hanya barang “KW” alias aspal! Tapi tentu cukup kalau saya membeli sesuai dengan kemampuan saya. Saya akan merasa “miskin” kalau saya melihat teman-teman saya yang sudah sukses dalam karir atau bisnisnya. Tapi saya akan merasa “kaya” ketika tiap hari saya temukan begitu banyak orang bergelut dengan sampah hanya demi bertahan hidup.
Saya ingat setahun lalu ada konser Justin Bieber yang harga tiket termurahnya saja Rp. 1,5 juta, panitia menyediakan 10.000 lembar tiket ludes terjual habis, meski ada tiket yang harganya Rp. 5 juta. Kalau diasumsikan dengan harga tiket termurah, setidaknya 15 milyar habis dalam tempo beberapa jam.
Padahal, kalau diadakan malam amal untuk membantu orang miskin, cacat, sakit, anak-anak putus sekolah, dll, rasanya sulit dibayangkan bisa terkumpul 15 milyar dalam tempo semalam.
Anak-anak ABG saat itu rela tidak jajan dan menabungkan uang sakunya 3 bulan demi terbeli tiket konser Justin Bieber. Apa kira-kira mereka rela menabung selama itu untuk membayar biaya bimbel atau membeli buku? Tentu tidak, sebab mereka beranggapan itu kewajiban ortunya.
Penerima BLT
– Antrian penerima BLT, gak miskin-miskin amat kan? (hariansumutpos.com) –
Beberapa waktu lalu, saya nonton berita di TV, puluhan orang menggugat sebuah travel biro umroh abal-abal karena telah menipu mereka. Travel biro ini menawarkan paket umroh seharga Rp. 6 juta padahal travel biro lainnya rata-rata paket termurah biayanya Rp. 16 juta.
Akhirnya, uang Rp. 6 juta sudah disetorkan, tapi mereka tak kunjung diberangkatkan. Ternyata, bahkan untuk urusan ibadah pun pilih “ngirit” dengan paket hemat meski harganya tak masuk akal. Banyak sekali kasus penipuan dengan berbagai macam iming-iming, tapi modusnya sama, menawarkan sesuatu dengan harga kelewat murah atau menawarkan investasi dengan keuntungan besar dalam tempo singkat dan tanpa susah payah.
Yang seperti ini menjamur di Indonesia dan seperti mendapat lahan yang subur. Kenapa?! Sekali lagi karena banyak masyarakat kita yang mentalitasnya seperti itu. Mau irit, mau kaya cara kilat, mau dapat untung besar instan, tanpa susah payah.
Itulah potret sebagian dari mentalitas bangsa kita. Mungkin inilah sebabnya meski kita sudah merdeka 66 tahun, tetap saja tidak bisa jadi negara kaya. Mentalitas sebagian bangsanya, sejak remaja hingga dewasa memang masih “miskin”. Demi sesuatu yang sifatnya konsumtif dan kesenangan, mereka rela bersusah payah.
Tapi kalau ada sesuatu yang sifatnya “bantuan”, mereka rela berpura-pura tak berpunya agar kebagian. Sebagian besar bangsa ini masih lebih suka menadahkan tangan, masih lebih suka memposisikan diri sebagai “tangan di bawah”. Banyaknya jumlah pengemis yang membanjiri kota-kota besar, tidak berarti di kampung tak ada pekerjaan.
Tapi lebih karena alasan lebih bisa jadi kaya dengan mengemis di kota besar, ketimbang susah payah mencangkul sawah di kampung. Saya kuatir, suatu saat ada orang kaya yang merasa berhak atas raskin (beras miskin) hanya karena dirinya bagian dari rakyat juga. Duuh.., bangsaku!
Mobil Keren Pakai Pertamax



sumber:  http://supermilan.wordpress.com/2012/04/05/mobil-mewah-pakai-bbm-bersubsidi-cerminan-mentalitas-bangsa-yang-miskin/

Senin, 29 Oktober 2012


SELAYANG PANDANG KOPERASI ASTRA INTERNATIONAL
  • Didirikan pada tanggal 25 Juni 1990 di AETC, Jl. Gaya Motor I No. 10 Jakarta.
  • Disahkan dengan Akte Badan Hukum No. 8304 tanggal 14 Juli 1990.
  • Perubahan Anggaran Dasar Koperasi No. 32/PAD/KWK.9/VIII/99 tanggal 10 Agustus 1999.
  • Mendapat alokasi pembelian saham dari PT. Astra International sebanyak 1.000.000,- (satu juta) lembar saham.
  • Merupakan koperasi primer nasional dengan fungsi induk bagi koperasi unit dan cabang group Astra.
visi
Menjadi institusi usaha yang terbaik dalam mendukung perusahaan untuk meningkatkan kesejahteraan Anggota
misi
Mengembangkan usaha-usaha untuk meningkatkan kesejahteraan Anggota dan Karyawan, serta memberikan nilai tambah bagi perusahaan di lingkungan kelompok Astra, dengan berlandaskan azas QCD
what business we are in
Usaha-usaha yang meningkatkan kesejahteraan Anggota dan memberikan nilai tambah bagi perusahaan di lingkungan kelompok Astra
corporate value
  • Menjadi koperasi yang bermanfaat bagi Anggota.
  • Mengutamakan pelayanan terbaik bagi Anggota.
  • Pelanggan dan Mitra Usaha.
  • Senantiasa mengutamakan kerja sama.
  • Pengelolaan secara profesional, transparan dan kehati-hatian.
  • Menjunjung tinggi prinsip dasar koperasi dengan landasan etika kerja dan etika usaha yang benar.
key success factor
  • Mempunyai Corporate Image yang baik.
  • Mempunyai Sumber Daya Manusia (SDM) yang loyal, profesional, dan memiliki jiwa entrepreneurship.
  • Mempunyai jaringan kerjasama yang luas dan baik dengan pihak intern maupun ekstern.

    KEANGGOTAAN
    • Karyawan tetap Astra Group.
    • Mengisi form keanggotaan Koperasi Astra dengan benar dan lengkap
      Form Keanggotaan Koperasi Astra bisa didapat di:
      - Koperasi Unit/HRD perusahaan setempat
      - Download di www.koperasi-astra.com
    • Melampirkan copy KTP & ID Card
    • Disetujui oleh Pengurus Koperasi Unit & HRD
    • Membayar Simpanan Pokok sebesar Rp. 10.000,- (Sepuluh Ribu Rupiah)
      Simpanan Pokok dapat disetor langsung ke Koperasi Astra atau transfer melalui:
      - Bank Mandiri Cabang Gambir, Atas Nama Koperasi Astra International
        No. Rek: 119-009-400-4155
        atau
      - Bank Permata Cabang Hayam Wuruk, Atas Nama Koperasi Astra International
        No. Rek: 0.200.162.099
    • Seluruh dokumen persyaratan dan bukti transfer pembayaran dapat dikirim:
      - Langsung ke Koperasi Astra
      - Via Fax (021) 653-5022, Up. Bagian Keanggotaan Telp (021) 6583-2776 Ext. 105/148
      - Via Kopnit/HRD setempat, untuk kemudian diteruskan ke Bagian Keanggotaan Koperasi Astra
    • Koperasi Astra akan menerbitkan kartu Anggota dalam waktu 3 hari setelah aplikasi keanggotaan diterima lengkap
    • Kartu Anggota yang sudah jadi dikirim secara kolektif ke PIC HRD/Personalia perusahaan setempat

    Hak & Kewajiban Anggota
    • Mendapatkan manfaat & pelayanan atas seluruh kegiatan Koperasi.
    • Mendapatkan Sisa Hasil Usaha.
    • Partisipasi aktif terhadap seluruh kegiatan dan program Koperasi.
    • Mentaati seluruh ketentuan dan peraturan yang berlaku di Koperasi.
    Manfaat Menjadi Anggota
    • Berbagai Fasilitas Pinjaman
    • Beasiswa untuk Anak Anggota
    • Program Persiapan Pensiun untuk Anggota
    • Program Perumahan
    • Simpanan Berjangka


    PRODUK KOPERASI
    1.       PINJAMAN
    2.       SIMPANAN
    1).  JENIS -  JENIS PINJAMAN  :
    http://www.koperasi-astra.com/images/icon_bencana.gif
    http://www.koperasi-astra.com/images/icon_pelangi.gif
    http://www.koperasi-astra.com/images/icon_rumah.gif
    http://www.koperasi-astra.com/images/icon_uangmukarumahkhusus.gif
    http://www.koperasi-astra.com/images/icon_pendidikan.gif
    http://www.koperasi-astra.com/images/icon_transportasi.gif
    http://www.koperasi-astra.com/images/icon_rumah.gif
    http://www.koperasi-astra.com/images/icon_modalpensiun.gif
    http://www.koperasi-astra.com/images/icon_multiguna.gif
    http://www.koperasi-astra.com/images/icon_darurat.gif
    http://www.koperasi-astra.com/images/icon_multi-griya.gif
    http://www.koperasi-astra.com/images/family-icon.jpg


Judul : “Koperasi Indonesia : Potret Dan Tantangan

ABSTRAK
Sesuai dengan pasal 33 dalam Undang-Undang Dasar 1945 telah disebutkan bahwa koperasi sesuai dengan perekonomian Indonesia. Dimana semua warga negara dan pemerintah Indonesia wajib menjaga keberadaan dan pengembangan koperasi menjadi sektor ekonomi yang kuat sehingga mampu berperan dalam perekonomian Indonesia. Konsep koperasi itu bersifat umum, namun karakteriktik dari koperasi Indonesia berbeda dengan koperasi negara lain. Koperasi indonesia bukanlah hanya sebuah badan/organisasi saja, melainkan berperan untuk memberantas kemiskinan, meningkatkan kesejahteraan masyarkat dan menyebarluaskan jiwa dan semangat koperasi untuk terus dikembangkan. Namun, rendahnya SDM yang kita miliki, terjadi banyak hal yang tidak inginkan koperasi ini. Seperti ada saja penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dari kalangan yang tidak jelas sehingga membuat masyarakat memiliki opini sendiri terhadap koperasi dan hal itu mengakibatkan turunnya kinerja dari koperasi itu sendiri. Maka untuk itu pemerintah perlu membangun kembali citra dari koperasi itu. Pemerintah perlu mensosialisasikan kembali nilai-nilai luhur koperasi kepada masyarkat luas , mengembangkan jiwa koperasi didalam diri mereka, membangun kerja sama diantara mereka, serta bertindak tegas bila perlu membubarkan terhadap koperasi yang tidak jelas dan tidak memiliki perizinan usahanya.
I.     Latar Belakang
1.       Sejarah kelahiran dan berkembangnya koperasi di negara maju (barat) dan negara berkembang memang sangat diametral. Di barat koperasi lahir sebagai gerakan untuk melawan ketidakadilan pasar, oleh karena itu tumbuh dan berkembang dalam suasana persaingan pasar. Bahkan dengan kekuatannya itu koperasi meraih posisi tawar dan kedudukan penting dalam konstelasi kebijakan ekonomi termasuk dalam perundingan internasional. Peraturan perundangan yang mengatur koperasi tumbuh kemudian sebagai tuntutan masyarakat koperasi dalam rangka melindungi dirinya.
2.       Di negara berkembang koperasi dirasa perlu dihadirkan dalam kerangka membangun institusi yang dapat menjadi mitra negara dalam menggerakkan pembangunan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu kesadaran antara kesamaan dan kemuliaan tujuan negara dan gerakan koperasi dalam memperjuangkan peningkatan kesejahteraan masyarakat ditonjolkan di negara berkembang, baik oleh pemerintah kolonial maupun pemerintahan bangsa sendiri setelah kemerdekaan, berbagai peraturan perundangan yang mengatur koperasi dilahirkan dengan maksud mempercepat pengenalan koperasi dan memberikan arah bagi pengembangan koperasi serta dukungan/perlindungan yang diperlukan.
3.       Pengalaman di tanah air kita lebih unik karena koperasi yang pernah lahir dan telah tumbuh secara alami di jaman penjajahan, kemudian setelah kemerdekaan diperbaharui dan diberikan kedudukan yang sangat tinggi dalam penjelasan undang-undang dasar. Dan atas dasar itulah kemudian melahirkan berbagai penafsiran bagaimana harus mengembangkan koperasi. Paling tidak dengan dasar yang kuat tersebut sejarah perkembangan koperasi di Indonesia telah mencatat tiga pola pengembangan koperasi. Secara khusus pemerintah memerankan fungsi “regulatory” dan “development” secara sekaligus (Shankar 2002). Ciri utama perkembangan koperasi di Indonesia adalah dengan pola penitipan kepada program yaitu : (i) Program pembangunan secara sektoral; (ii) Lembaga-lembaga pemerintah; dan (iii) Perusahaan baik milik negara maupun swasta. Sebagai akibatnya prakarsa masyarakat luas kurang berkembang dan kalau ada tidak diberikan tempat semestinya.
4.       Selama ini “koperasi” di­kem­bangkan dengan dukungan pemerintah dengan basis sektor-sektor primer yang memberikan lapangan kerja  terbesar ba­gi penduduk Indonesia. KUD  sebagai koperasi program  yang didukung dengan program pem­bangunan  untuk membangun KUD. Di sisi lain pemerintah memanfaatkan KUD untuk mendukung program pembangunan seperti yang se­lama PJP I, menjadi ciri yang menonjol dalam politik  pem­bangunan koperasi. Bahkan koperasi secara eksplisit ditugasi melanjutkan program yang kurang berhasil ditangani langsung oleh pemerintah, seperti penyaluran kredit BIMAS menjadi KUT, pola pengadaan bea pemerintah, TRI dan lain-lain sampai pada penciptaan monopoli baru (cengkeh).
II.      Potret Koperasi Indonesia
5.       Sampai dengan bulan November 2001, jumlah koperasi di seluruh Indonesia tercatat sebanyak 103.000 unit lebih, dengan jumlah keanggota ada sebanyak 26.000.000 orang. Jumlah itu jika dibanding dengan jumlah koperasi per-Desember 1998 mengalami peningkatan sebanyak dua kali lipat. Jumlah koperasi aktif, juga mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan. Jumlah koperasi aktif per-November 2001, sebanyak 96.180 unit (88,14 persen). Corak koperasi Indonesia adalah koperasi dengan skala sangat kecil.
6.       Secara historis pengembangan koperasi di Indonesia yang telah digerakan melalui dukungan kuat program pemerintah yang telah dijalankan dalam waktu lama, dan tidak mudah ke luar dari kungkungan pengalaman ter­sebut. Jika semula ketergantungan terhadap captive market program menjadi sumber pertumbuhan, maka pergeseran ke arah peran swasta  menjadi tantangan baru bagi lahirnya pesaing-pesaing usaha  terutama KUD.
7.       Jika melihat posisi koperasi pada hari ini sebenarnya masih cukup besar harapan kita kepada koperasi. Memasuki tahun 2000 posisi koperasi Indonesia pada dasarnya justru didominasi oleh koperasi kredit yang menguasai antara 55-60 persen dari keseluruhan aset koperasi dan dilihat dari populasi koperasi yang terkait dengan program pemerintah hanya sekitar 25% dari populasi koperasi atau sekitar 35% dari populasi koperasi aktif. Pada akhir-akhir ini posisi koperasi dalam pasar Perkreditan mikro menempati tempat kedua setelah BRI-unit desa dengan pangsa sekitar 31%. Dengan demikian walaupun program pemerintah cukup gencar dan menimbulkan distorsi pada pertumbuhan kemandirian koperasi, tetapi hanya menyentuh sebagian dari populasi koperasi yang ada. Sehingga pada dasarnya masih besar elemen untuk tumbuhnya kemandirian koperasi.
8.        Mengenai jumlah koperasi yang meningkat dua kali lipat dalam waktu 3 tahun 1998 –2001, pada dasarnya tumbuh sebagai tanggapan  terhadap dibukanya secara luas pendirian koperasi dengan pencabutan Inpres 4/1984 dan lahirnya Inpres 18/1998. Sehingga orang bebas mendirikan koperasi pada basis pengembangan dan pada saat ini sudah lebih dari 35 basis pengorganisasian koperasi. Kesulitannya pengorganisasian koperasi tidak lagi taat pada penjenisan koperasi sesuai prinsip dasar pendirian koperasi atau insentif terhadap koperasi. Keadaan ini menimbulkan kesulitan pada pengembangan aliansi bisnis maupun pengembangan usaha koperasi kearah penyatuan vertical maupun horizontal.
9.       Struktur organisasi koperasi Indonesia mirip organisasi pemerintah/lembaga kemasyarakatan yang terstruktur dari primer sampai tingkat nasional. Hal ini  telah menunjukkan kurang efektif nya peran organisasi sekunder dalam membantu koperasi primer. Tidak jarang menjadi instrumen eksploitasi sumberdaya dari daerah pengumpulan. Fenomena ini dimasa datang harus diubah karena adanya perubahan orientasi bisnis yang berkembang dengan globalisasi.
III.       Kemanfaatan Koperasi
10.       Secara teoritis  sumber kekuatan koperasi  sebagai badan usaha  dalam konteks kehidupan perekonomian , dapat dilihat dari kemampuan untuk menciptakan kekuatan monopoli dengan derajat monopoli tertentu . Tetapi ini adalah kekuatan semu dan justru dapat menimbulkan kerugian bagi anggota  masyarakat di luar koperasi. Sumber kekuatan lain adalah kemampuan memanfaatkan berbagai potensi  external economies yang timbul di sekitar ke­giat­an ekonomi para anggotanya. Dan kehematan tersebut ha­nya dapat dinikmati secara bersama-sama, termasuk dalam hal menghindarkan diri dari adanya external diseconomies itu.
11.   Kehematan-kehematan yang dapat menjadi sumber kekuatan ko­perasi  memang tidak terbatas pada nilai ekonomis nya sema­ta. Kekuatan itu juga dapat bersumber dari faktor non-ekono­mis yang menjadi faktor berpengaruh secara tidak langsung ter­hadap kegiatan ekonomi anggota  masyarakat dan badan usaha koperasi . Sehingga manfaat atau keuntungan koperasi pada dasarnya selalu ter­kait dengan dua jenis manfaat, yaitu yang nyata (tangible)  dan yang tidak nyata (intangible).  Kemanfaatan koperasi ini ju­ga selalu berkaitan dengan keuntungan yang bersifat eko­no­mi dan sosial. Karena koperasi selain memberikan keman­fa­atan ekonomi juga mempunyai perhatian dan kepedulian terhadap aspek so­sial seperti pendidikan,  suasana sosial kemasyarakatan, ling­kungan hidup,  dan lain-lain. Pembahasan ini difokuskan kepa­da manfaat yang mendasari digunakannya mekanisme  koperasi .
12.   Dalam hal ini koperasi mempunyai kekuatan yang lain kare­na koperasi dapat memberikan kemungkinan pengenalan teknologi  baru melalui kehematan dengan mendapatkan infor­masi  yang langsung dan tersedia bagi setiap anggota yang me­mer­lukannya. Kesemuanya itu dilihat dalam kerangka peran­­an koperasi  secara otonom bagi setiap individu anggotanya yang te­lah memutuskan menjadi anggota koperasi. Dengan de­mi­kian sepanjang koperasi dapat menghasilkan kemanfaatan ter­sebut bagi anggotanya maka akan mendorong orang untuk ber­koperasi karena dinilai bermanfaat.
13.   Dalam konteks yang lebih besar koperasi dapat dilihat se­ba­gai wahana koreksi oleh masyarakat pelaku ekonomi, ba­ik produsen maupun konsumen, dalam memecahkan kega­gal­an pasar dan mengatasi inefisiensi karena ketidaksempur­na­an pasar. Secara teoritis  koperasi akan tetap hadir jika terjadi ke­gagalan pasar. Jika pasar berkembang semakin kompetitif se­cara alamiah koperasi akan menghadapi persaingan  dari da­lam. Karena segala insentif  ekonomi yang selama ini didapat ti­dak lagi bisa dimanfaatkan. Sehingga sumber kekuatan untuk tetap mempertahankan hadirnya koperasi terletak pada ke­mam­­puan untuk mewujudkan keuntungan tidak langsung atau intangible  benefit yang disebutkan di muka.
14.   Dalam kerangka yang lebih makro suatu perekonomian  me­ru­pakan suatu bangunan yang terdiri dari berbagai pelaku yang dikenal dengan kelompok produsen dan kelompok kon­sumen. Di dalam suatu negara  berkembang  organisasi ekono­mi dari masing-masing pelaku tadi menjadi semakin kompleks. Ka­rena selain pemerintah dan swasta (perusahaan  swasta) se­be­nar­nya masih ada dua kelompok lain yaitu koperasi dan sek­tor  rumah tangga. Kelompok yang disebut terakhir, perlu men­dapatkan pencermatan tersendiri, karena mungkin ia dapat bera­da di dalam koperasi, atau menjadi suatu unit usaha  sen­diri, atau merupakan pendukung usaha  swasta  yang ada. Inilah yang sebenarnya perlu kita lihat dalam kerangka yang lebih luas.
15.   Secara konseptual dan empiris, mekanisme  koperasi  me­mang diperlukan dan tetap diperlukan oleh suatu perekonomi­an  yang menganut sistem pasar.  Besarnya peran tersebut akan sangat tergantung dari tingkat pendapatan masyarakat, tingkat pengetahuan dan kesadaran  masyarakat serta struktur  pasar  dari berbagai kegiatan ekonomi dan sumber daya alam dari sua­tu negara.  Contoh klasik dari pentingnya kondisi pasar yang kompatibel dengan kehadiran koperasi adalah pengalaman koperasi susu dimana-mana di dunia ini selalu menjadi contoh sukses (kasus bilateral monopoli). Padahal sukses ini tidak selalu dapat diikuti oleh jenis kegiatan produksi pertanian lainnya. Koperasi sebagai mekanisme  kerjasama  ekono­mi juga tidak mengungkung dalam sistemnya sendiri yang ter­ba­tas pada sistem dan struktur koperasi, tetapi dalam inte­rak­si dapat meminjam mekanisme bisnis yang lazim dipakai oleh badan usaha  non-koperasi. Termasuk dalam hal ini pem­ben­tukan usaha  yang berbentuk non koperasi  untuk memper­ta­hankan kemampuan pelayanan  dan menegakkan mekanisme koperasi  yang dimiliki.
IV.      Posisi Koperasi dalam Perdagangan Bebas
16.   Esensi perdagangan bebas  yang sedang diciptakan oleh ba­nyak negara  yang ingin lebih maju ekonominya adalah meng­­hilangkan sebanyak mungkin hambatan perdagangan inter­nasional. Melihat arah tersebut maka untuk melihat dampak­nya terhadap perkembangan koperasi  di tanah air dengan cara mengelompokkan koperasi ke dalam ketiga kelompok atas dasar jenis koperasi. Pengelompokan itu meliputi pembedaan atas dasar: (i) koperasi produsen  atau koperasi yang bergerak di bidang  produksi,  (ii) koperasi konsumen  atau koperasi kon­sumsi, dan (iii) koperasi kredit dan jasa  keuangan. Dengan cara ini akan lebih mudah mengenali keuntungan yang bakal timbul dari adanya perdagangan bebas  para anggota  koperasi dan anggota koperasinya sendiri.
17.   Koperasi produsen  terutama koperasi pertanian memang meru­pa­kan koperasi yang paling sangat terkena pengaruh per­dagangan bebas  dan berbagai liberalisasi. Koperasi pertanian di seluruh belahan dunia ini me­mang selama ini menikmati proteksi  dan berbagai bentuk sub­sidi serta dukungan pemerintah. Dengan diadakannya pengaturan mengenai subsidi, tarif, dan akses pasar, maka produksi  barang yang dihasilkan oleh ang­gota  koperasi tidak lagi dapat menikmati perlindungan seper­ti semula, dan harus dibuka untuk pasaran impor  dari ne­gara  lain yang lebih efisien.
18.   Untuk koperasi-koperasi yang menangani komoditi sebagai pengganti impor  atau ditutup dari persaingan  impor jelas hal ini akan merupakan pukulan be­rat dan akan menurunkan perannya di dalam percaturan pa­sar kecuali ada rasionalisasi produksi.  Sementara untuk koperasi yang menghasilkan barang pertanian  untuk ekspor seperti minyak sawit, kopi, dan rempah serta produksi  pertanian dan perikanan maupun peternakan  lainnya, jelas perdagangan bebas merupakan peluang emas. Karena berbagai kebebasan tersebut berarti membuka peluang pasar yang baru. Dengan demikian akan memperluas pasar yang pada gilirannya akan merupakan peluang untuk pening­katan produksi dan usaha bagi koperasi yang bersangkutan. Dalam konteks ini koperasi yang menangani produksi  per­tanian,  yang selama ini mendapat kemudahan dan per­lin­dungan pemerintah melalui proteksi  harga  dan pasar akan meng­hadapi masa-masa sulit. Karena itu koperasi produksi  ha­rus merubah strategi kegiatannya. Bahkan mungkin harus me­reorganisasi kembali supaya kompatibel dengan tantangan yang dihadapi. Untuk koperasi produksi  di luar pertanian  memang cukup sulit untuk dilihat arah pengaruh dari liberalisasi perdagangan terha­dapnya. Karena segala sesuatunya akan sangat tergan­tung di posisi segmen  mana kegiatan koperasi  dibedakan dari para anggotanya. Industri kecil misalnya sebenarnya pada saat ini relatif berhadapan dengan pasar yang lebih terbuka. Artinya mereka terbiasa dengan persaingan  dengan dunia luar untuk memenuhi pemintaan ekspor maupun berhadapan dengan ba­rang pengganti yang diimpor. Namun cara-cara koperasi juga dapat dikerjakan oleh perusahaan bukan koperasi.
19.   Secara umum koperasi di dunia akan menikmati manfaat be­sar dari adanya perdagangan bebas,  karena pada dasarnya per­dagangan bebas itu akan selalu membawa pada persaingan  yang lebih baik dan membawa pada tingkat keseimbangan har­ga  yang wajar serta efisien. Peniadaan hambatan per­da­gangan akan memperlancar arus perdagangan dan terbukanya pilih­an barang dari seluruh pelosok penjuru dunia secara be­bas. Dengan demikian konsumen akan menikmati kebebasan un­tuk memenuhi hasrat konsumsinya secara optimal . Meluas­nya konsumsi masyarakat dunia akan mendorong meluas dan mening­katnya usaha  koperasi  yang bergerak di bidang  konsumsi. Selain itu dengan peniadaan hambatan perdagangan oleh pe­merintah melalui peniadaan non torif barier dan penurunan ta­rif akan menyerahkan mekanisme  seleksi sepenuhnya kepada ma­syarakat. Koperasi sebenarnya menjadi wahana masyarakat un­tuk melindungi diri dari kemungkinan kerugian yang timbul aki­bat perdagangan bebas .
20.   Kegiatan koperasi kredit,  baik secara teoritis  maupun em­pi­ris, terbukti mempunyai kemampuan untuk membangun seg­men­tasi pasar  yang kuat sebagai akibat struktur  pasar  keuang­an yang sangat tidak sempurna, terutama jika menyangkut masa­lah  informasi.  Bagi koperasi kredit  keterbukaan perda­gangan dan aliran modal  yang keluar masuk akan meru­pakan kehadiran pesaing baru terhadap pasar keuangan, na­mun tetap tidak dapat menjangkau para anggota koperasi. Apa­bila koperasi kredit mempunyai jaringan  yang luas dan me­nu­tup usahanya hanya untuk pelayanan anggota saja, maka seg­mentasi ini akan sulit untuk ditembus pesaing baru. Bagi koperasi-koperasi kredit  di negara berkembang,  ada­nya globalisasi  ekonomi dunia akan merupakan peluang untuk menga­dakan kerjasama  dengan koperasi kredit  di negara maju dalam membangun sistem perkreditan  melalui koperasi. Koperasi kredit atau simpan pinjam di masa mendatang akan menjadi pilar kekuatan sekitar koperasi yang perlu diikuti oleh dukungan lainnya seperti sistem pengawasan dan jaminan.
V.    Koperasi Dalam Era Otonomi Daerah
21.       Implementasi undang-undang otonomi  daerah, akan mem­berikan dampak positif bagi koperasi dalam hal alokasi sum­ber daya alam dan pelayanan  pembinaan lainnya. Namun kope­rasi akan semakin menghadapi masalah  yang lebih intensif de­ngan pemerintah daerah dalam bentuk penempatan lokasi  inves­tasi  dan skala kegiatan koperasi . Karena azas efisiensi  akan mendesak koperasi untuk membangun jaringan  yang luas dan mungkin melampaui batas daerah otonom. Peranan advo­kasi oleh gerakan koperasi  untuk memberikan orientasi kepa­da pemerintah di daerah semakin penting. Dengan demikian peranan pemerintah di tingkat propinsi yang diserahi tugas untuk pengembangan koperasi harus mampu menjalankan fung­si intermediasi semacam ini. Mungkin juga dalam hal lain yang berkaitan dengan pemanfaatan infrastruktur daerah yang semula menjadi kewenangan pusat.
22.   Peranan pengembangan sistem lembaga keuangan koperasi di tingkat Kabupaten / Kota sebagai daerah otonomi menjadi sangat penting. Lembaga keuangan koperasi yang kokoh di daerah otonom akan dapat menjangkau lapisan bawah dari ekonomi rakyat. Disamping itu juga akan mampu berperan menahan arus keluar sumber keuangan daerah. Berbagai studi menunjukan bahwa lembaga keuangan yang berbasis daerah akan lebih mampu menahan arus kapital keluar.
23.   Dukungan yang diperlukan bagi koperasi untuk mengha­dapi berbagai rasionalisasi adalah keberadaan lembaga jaminan kre­dit  bagi koperasi dan usaha  kecil  di daerah. Dengan demi­kian kehadiran lembaga jaminan akan menjadi elemen terpenting untuk percepatan perkembangan koperasi  di dae­rah. Lembaga jaminan kredit yang dapat dikembangkan Pemerintah  Daerah akan dapat mendesentralisasi pengem­bangan ekonomi rakyat  dan dalam jangka panjang  akan me­num­buhkan kemandirian daerah untuk mengarahkan aliran uang di masing-masing daerah. Dalam jangka menengah kope­rasi juga perlu memikirkan asuransi bagi para penabung.
24.   Potensi koperasi pada saat ini sudah mampu untuk memulai gerakan koperasi  yang otonom, namun fokus bisnis koperasi harus diarahkan pada ciri universalitas kebutuhan yang tinggi seperti jasa  keuangan, pelayanan  infrastruktur serta pembelian bersama. Dengan otonomi  selain peluang untuk memanfaatkan potensi  setempat juga terdapat potensi benturan yang harus diselesaikan di tingkat daerah. Dalam hal ini konsolidasi potensi  keuangan, pengem­bangan jaringan  informasi  serta pengembangan pusat inovasi dan teknologi  merupakan kebutuhan pendukung untuk kuat­nya kehadiran koperasi. Pemerintah  di daerah dapat mendo­rong pengem­bang­an lembaga penjamin kredit  di daerah.
VI.                Penutup
25.       Pendekatan pengembangan koperasi sebagai instrumen pembangunan terbukti menimbulkan kelemahan dalam menjadikan dirinya sebagai koperasi yang memegang prinsip-prinsip koperasi dan sebagai badan usaha yang kompetitif. Reformasi kelembagaan koperasi menuju koperasi dengan jati dirinya akan menjadi agenda panjang.
26.       Dalam kerangka otonomi daerah perlu penataan lembaga keuangan koperasi (koperasi simpan pinjam) untuk memperkokoh pembiayaan kegiatan ekonomi di lapisan terbawah dan menahan arus ke luar potensi sumberdaya lokal yang masih diperlukan. Pembenahan ini akan merupakan elemen penting dalam membangun sistem pembiayaan mikro di tanah air.
 DAFTAR PUSTAKA
1.                   Couture, M-F, D. Faber, M. Larim, A-B. Nippierd : Transition to Cooperative Entrepreneurship, ILO and University of Nyeurode, of Nyenrode, Genewa, 2002.
2.                   Ravi Shankar and Garry Conan : Second Critical Study on Cooperative Legislation and policy  Reform, ICA, RAPA, New Delhi, 2002.
3.                   Noer Soetrisno : Rekonstruksi Pemahaman Koperasi Merajut Kekuatan Ekonomi Rakyat
4.                   Rusidi, Prof. Dr. Ir. MS dan Maman Suratman, Drs. MSi : Bunga Rampai 20 Pokok Pemikiran Tentang Koperasi, Institut Manajemen Koperasi Indonesia, Bandung 2002

sumber:http://vahmy76.wordpress.com/2011/12/19/jurnalekonomi-koperasi-5/